Bangka BelitungBerandaBeritaPangkalpinang

HIV Masih Jadi Fenomena Gunung Es, Pemkot Pangkalpinang Perkuat Deteksi dan Pencegahan

PANGKALPINANG, GARUDAMERDEKA.ID — Stigma dan rasa malu masih menjadi tantangan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Kondisi tersebut membuat banyak kasus belum terdeteksi sehingga membutuhkan penguatan pencegahan dan deteksi dini hingga tingkat kelurahan.

Hal itu disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi, saat membuka Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (PP ATM) di Sun Hotel Pangkalpinang, Selasa (15/9/2026).

Agustu mengatakan HIV/AIDS masih menghadapi persoalan serius karena sebagian masyarakat yang terinfeksi belum terdeteksi maupun mendapatkan penanganan.

“HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan sedikit, tetapi di bawahnya sangat banyak karena masih ada stigma dan rasa malu dari penderita untuk melapor. Ini yang perlu kita antisipasi,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Penanganan tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan hingga pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan.

Ia menyebut Indonesia diperkirakan masih menghadapi sekitar 28 ribu infeksi HIV baru setiap tahun, sementara jumlah orang yang hidup dengan HIV mencapai sekitar 570 ribu orang.

Baca juga  DPRD Kembalikan Raperda Iptek, Pemkot Pangkalpinang Siap Terbitkan Perwali

Selain HIV/AIDS, persoalan TBC juga masih menjadi tantangan besar. Estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar 1,09 juta kasus dengan angka kematian sekitar 125 ribu jiwa setiap tahun.

Karena itu, Agustu mendorong penguatan kemitraan agar pencegahan, penemuan kasus, pengobatan serta pendampingan masyarakat dapat dilakukan secara lebih optimal.

Kecamatan dan kelurahan, kata dia, memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan masyarakat. Peran tersebut perlu diperkuat bersama organisasi kemasyarakatan, PKK Pokja IV dan Komisi Penanggulangan AIDS.

“Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya sektor kesehatan,” ujarnya.

Pertemuan tersebut juga menjadi momentum untuk menyusun langkah konkret dalam mendukung target pemerintah Indonesia mencapai eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada 2030.

Agustu berharap hasil forum tidak berhenti sebagai pembahasan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program nyata di tingkat kecamatan dan kelurahan.

Komitmen tersebut selanjutnya diharapkan dapat disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Wali Kota Pangkalpinang guna memperkuat dukungan penganggaran terhadap program PP ATM.

“Marilah kita bekerja sama, saling bergandengan tangan untuk mengoptimalkan peran dan kontribusi dalam menuntaskan kasus AIDS, TBC, dan Malaria menuju eliminasi tahun 2030,” pungkasnya. (GM)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!