Bangka BelitungBangka SelatanBerandaBerita

Maulid Nabi Meneladani Rasulullah, Menguatkan Gerakan Pemuda Ansor

TOBOALl, GARUDAMERDEKA.ID – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan berhenti sebagai seremonial keagamaan. Maulid seharusnya menjadi ruang untuk membaca kembali keteladanan Rasulullah SAW dan menerjemahkannya ke dalam kehidupan sosial, kebangsaan, serta gerakan kepemudaan.

Bagi Pemuda Ansor, momentum Maulid Nabi memiliki makna yang lebih dalam. Sebab, nama Ansor sendiri merujuk kepada kaum Anshar, masyarakat Madinah yang dikenal karena keberanian, pengorbanan, persaudaraan, dan kesediaannya menjadi penolong perjuangan Rasulullah SAW. Secara historis, nama Ansor kemudian menjadi inspirasi bagi gerakan kepemudaan Nahdlatul Ulama untuk melahirkan kader yang menjadi penolong, pejuang, dan pelopor. (Dikutip dari NU Online)

Di sinilah korelasi Maulid Nabi dengan pergerakan Pemuda Ansor menjadi sangat relevan.

Rasulullah mengajarkan bahwa perjuangan harus dibangun dengan akhlak. Maka kader Ansor tidak cukup hanya memiliki keberanian bergerak, tetapi juga harus memiliki integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan. Militansi tanpa akhlak dapat kehilangan arah sementara akhlak tanpa keberanian bergerak akan berhenti menjadi wacana.

Karena itu, pemuda yang gemar saling membenci, saling mencemooh, dan sibuk menjatuhkan sesamanya perlu berani bercermin. Apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan? Kebaikan atau sekadar pengakuan? Kemajuan bersama atau kepuasan karena melihat orang lain gagal?

Persaingan di antara pemuda tidak selalu buruk. Yang buruk adalah ketika persaingan berubah menjadi permusuhan, ketika kritik berubah menjadi penghinaan, dan ketika perbedaan dijadikan alasan untuk membangun kebencian. Pemuda seharusnya berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba menjadi yang paling keras mencela. Jangan sampai energi yang seharusnya digunakan untuk mengabdi justru habis untuk membalas komentar, mengejar pujian, dan mencari validasi.

Rasulullah mengajarkan persaudaraan dan persatuan. Karena itu, Ansor harus mampu menjadi ruang bertemunya perbedaan. Perbedaan latar belakang, profesi, karakter maupun pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah barisan. Justru di tengah masyarakat yang semakin kompleks, kader Ansor dituntut menjadi perekat sosial.

Persaudaraan tidak berarti meniadakan kritik. Namun kritik harus lahir dari kepedulian, bukan dari kebencian. Menegur boleh, berbeda pendapat boleh, bersaing juga boleh, tetapi jangan kehilangan adab. Jangan menjadikan organisasi, media sosial, atau ruang publik sebagai panggung untuk saling mempermalukan. Pemuda yang matang tidak perlu merendahkan orang lain untuk terlihat tinggi.

Baca juga  Rina Tarol dan Musani Suarakan Jeritan Petani Desa Rias, Sawit Ancam Lahan Pertanian dan Bendungan Mentukul

Rasulullah mengajarkan keberpihakan kepada masyarakat. Maka ukuran keberhasilan gerakan bukan hanya seberapa ramai kegiatan organisasi, seberapa banyak unggahan yang dibagikan, atau seberapa sering nama disebut. Ukurannya adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Kader harus hadir ketika masyarakat membutuhkan dalam persoalan sosial, pendidikan, kemanusiaan, ekonomi, kebencanaan maupun persoalan kebangsaan. Sebab masyarakat tidak membutuhkan pemuda yang hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi tidak pernah memulai tindakan. Masyarakat membutuhkan pemuda yang mau turun tangan, bekerja dalam diam, dan menyelesaikan persoalan tanpa menunggu tepuk tangan.

Dan yang tidak kalah penting, Rasulullah mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan generasi yang dipersiapkan. Karena itu kaderisasi harus menjadi jantung pergerakan. Ansor tidak boleh hanya sibuk mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi harus terus melahirkan pemuda yang berilmu, berkarakter, profesional dan mampu menjawab tantangan zaman.

Hari ini tantangan pemuda tidak lagi hanya berbentuk penjajahan fisik. Tantangannya hadir dalam bentuk disinformasi, intoleransi, radikalisme, krisis keteladanan, pragmatisme, kesenjangan sosial, lemahnya literasi, serta budaya haus validasi. Banyak pemuda ingin terlihat hebat sebelum benar-benar berbuat. Ingin diakui sebelum memberi kontribusi. Ingin dipuji sebelum menyelesaikan satu pun persoalan.

Padahal, kebaikan tidak selalu dimulai dari panggung besar. Tidak semua pengabdian harus diumumkan. Tidak semua kerja harus didokumentasikan. Tidak semua kontribusi membutuhkan pengakuan. Berbuat saja dulu. Mulailah dari hal yang mampu dilakukan: membantu, belajar, mengorganisasi, mendampingi, menjaga persaudaraan, dan menyelesaikan persoalan di sekitar.

Karena itu, perjuangan Ansor harus menemukan bentuk barunya berilmu dalam berpikir, santun dalam bersikap, kuat dalam prinsip, berani dalam bertindak, dan nyata dalam pengabdian.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!