Maulid Nabi Meneladani Rasulullah, Menguatkan Gerakan Pemuda Ansor

Arah tersebut sejalan dengan visi GP Ansor yang menempatkan pembentukan generasi muda yang beriman, berilmu, berdaya saing, berkomitmen terhadap NKRI, serta memiliki kepedulian sosial sebagai bagian penting dari gerakan. (Dikutip dari GP Ansor)
Maka Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah kita menjadi Ansor yang benar-benar menjadi penolong ?
Sudahkah kita menjadi pemuda yang hadir ketika masyarakat membutuhkan ?
Apakah kita sedang berlomba dalam kebaikan, atau hanya sibuk mencari kesalahan orang lain ?
Apakah gerakan kita benar-benar memberi manfaat, atau hanya mengejar pengakuan dan validasi?
Berapa banyak yang sudah kita kerjakan, bukan hanya yang sudah kita katakan ?
Sebab pada akhirnya, mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak pujian kepada beliau, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan. Rasulullah tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kebencian, kesombongan, dan persaingan yang merusak. Beliau mengajarkan persaudaraan, keteguhan, keberanian, kasih sayang, dan pengabdian.
Pemuda Ansor harus terus bergerak. Bukan sekadar ramai dalam kegiatan, tetapi kuat dalam gagasan. Bukan hanya solid dalam organisasi, tetapi bermanfaat bagi masyarakat. Bukan hanya pandai mengkritik, tetapi berani menawarkan solusi. Bukan hanya sibuk membuktikan diri kepada manusia, tetapi sungguh-sungguh bekerja karena Allah dan kemaslahatan bersama.
Jangan menunggu semua orang menyukai kita untuk mulai berbuat. Jangan menunggu dipuji untuk mulai mengabdi. Jangan menunggu memiliki posisi untuk memberi manfaat. Dan jangan menjadikan kebencian orang lain sebagai alasan untuk berhenti melakukan kebaikan.
Bersainglah dalam kebaikan, bukan dalam kebencian.
Kritiklah dengan adab, bukan dengan cemoohan.
Bergeraklah dengan tulus, bukan demi validasi.
Berbuatlah terlebih dahulu, karena manfaat tidak lahir dari niat yang terus ditunda.
Maulid Nabi adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat Anshar menolong, berjuang, dan mengabdi.
Dari keteladanan Rasulullah kita belajar akhlak.
Dari kaum Anshar kita belajar pengorbanan.
Dari persaudaraan kita belajar menahan kebencian.
Dari perjuangan kita belajar bahwa kebaikan harus segera dikerjakan.
Dari Ansor kita belajar untuk terus bergerak dan mengabdi. (GM)
Penulis : Anash Barokah
Kader PC GP ANSOR BASEL





