Bangka BelitungBeritaOpiniPangkalpinang

Mahasiswa Universitas Bangka Belitung Kaji Fenomena Rekayasa Opini Publik melalui Media Sosial bersama Diskominfo, Influencer, dan Polresta Pangkalpinang

Ketika Jack Tugil mengomentari gaya pakaian jogging atau isu pendidikan, ia sedang membentuk batas-batas wajar dan tidak wajar dalam kehidupan sosial masyarakat. Meski ia tidak mengakui dirinya sebagai pembentuk opini publik, respon pengikutnya melalui like, komentar, repost menjadi mekanisme pengakuan sosial pada pesan yang ia bawa.

Sementara itu, wawancara bersama Polresta Pangkalpinang memperlihatkan dimensi lain dari kekuasaan, yakni kekuasaan disipliner. Melalui postingan edukasi mengenai hoaks, penipuan digital, dan judi online, aparat hukum berupaya mengontrol perilaku masyarakat dalam ruang digital. Namun, tanpa kemampuan dalam bersaing dengan ritme algoritmik dan gaya komunikasi yang lebih menarik, Ibnu Riyanda selaku PS. Kasubsi PIDM Si Humas Polresta Pangkalpinang mengaku bahwa pesan moral yang disampaikan ini sering kali kalah bersaing dengan konten ringan, lucu, dan viral. Sehingganya kasus hoaks, penipuan digital, misinformasi, dan menjamurkan iklan judi online yang berseliweran kadang kala masih menjerat masyarakat sebagai objek utama. Foucault menyebut fenomena ini sebagai pertarungan wacana, bukan hanya soal siapa benar atau salah, tetapi siapa yang lebih efektif menyebarkan dan menormalkan narasi.

Baca juga  PT TIMAH Perkuat Literasi Guru SD Lewat Gernas Tastaka di Belitung Timur

Pada titik ini, interaksi ketiga aktor tersebut menunjukkan struktur kekuasaan yang berlapis di mana pemerintah menetapkan aturan, influencer membangun normalisasi, aparat mengawasi, dan algoritma menentukan siapa yang paling terlihat.

Melalui kacamata Foucault, dapat disimpulkan bahwa opini publik di media sosial bukanlah hasil dialog bebas, melainkan produk dari pertarungan wacana dan kekuasaan. Pemerintah, influencer, dan aparat hukum memiliki peran masing-masing, namun tidak ada yang benar-benar dominan. Kekuasaan terbesar kini berada pada mekanisme yang tidak kasatmata namun sangat menentukan yakni algoritma.

Sama seperti gagasan Foucault tentang power/knowledge, algoritma tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi memutuskan pengetahuan mana yang dianggap relevan. Dan pada akhirnya, pertanyaan itu kembali mengemuka, apakah publik hari ini berpikir berdasarkan pilihan mereka sendiri, atau berdasarkan apa yang telah dipilihkan untuk mereka?

Penulis : Abi Sayba, Elza, Fitri Ramadhani, Fitri Handayani, Ginata Naswa Safirly, Rani Rosalia.

 

 

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!