564 Anak Ikuti Khitanan Gratis PT TIMAH, Ringankan Beban Keluarga

PANGKALPINANG, GARUDAMERDEKA.ID — Sebanyak 564 anak mengikuti khitanan massal gratis yang digelar PT TIMAH (Persero) Tbk dalam rangkaian Bulan Bakti memperingati HUT ke-50 perusahaan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian perusahaan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di wilayah operasionalnya.
Mengusung tema “Timah untuk Rakyat”, rangkaian Bulan Bakti HUT ke-50 PT TIMAH tidak hanya diisi khitanan massal, tetapi juga kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Khitanan massal tersebut dilaksanakan di Sungailiat dan Belinyu, Kabupaten Bangka; Koba, Kabupaten Bangka Tengah; Toboali, Kabupaten Bangka Selatan; Mentok, Kabupaten Bangka Barat; Kundur, Kepulauan Riau; serta Jakarta.
Program khitanan massal merupakan agenda sosial rutin PT TIMAH dalam setiap peringatan hari jadi perusahaan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda yang dinantikan masyarakat karena selain memberikan layanan kesehatan, juga membantu keluarga mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan khitan anak.
Bagi peserta dan keluarga, kegiatan ini bukan sekadar layanan kesehatan gratis. Khitanan massal juga menjadi momen membahagiakan sekaligus bentuk dukungan bagi keluarga, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Salah satu peserta, Alwi, siswa kelas VI SD Negeri 007 Sawang, Kabupaten Karimun, tampak semringah meski sesekali rasa tegang terlihat di wajahnya menjelang menjalani khitan.
“Senang bisa ikut khitan di PT TIMAH. Apalagi saya diizinkan libur sekolah sampai sembuh. Terima kasih PT TIMAH sudah mengkhitan saya,” ujar Alwi.
Setelah menjalani proses khitan, senyum kembali terpancar dari wajah Alwi. Ia bahkan sempat menceritakan cita-citanya untuk menjadi seorang prajurit TNI.
Manfaat program tersebut turut dirasakan Desi Alena Suharini (40), warga Kelurahan Tanjung, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, yang harus membesarkan empat anak seorang diri.
Sejak suaminya meninggal dunia sembilan tahun lalu, Desi mengandalkan penghasilan dari usaha laundry untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.





