ERT PT TIMAH Tangani 97 Karhutla di Bangka Belitung

Budi menjelaskan, armada pemadam umumnya membawa sekitar empat hingga lima ton air. Jika air habis dan tidak ada armada yang langsung menyuplai, petugas membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk melakukan pengisian kembali.
“Kalau kita hanya sendiri dan tidak ada langsung mensuplai air, kita harus mengambil air lagi. Itu butuh waktu kurang lebih 15 sampai 30 menit,” jelasnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah juga menggandeng Perumda Air Minum guna mendukung ketersediaan sumber air, termasuk membuka hidran di sejumlah titik yang dapat digunakan untuk mempercepat pengisian armada pemadam.
Masyarakat Diminta Tidak Memicu Kebakaran
Selain memperkuat kesiapsiagaan dan respons pemadaman, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya saat cuaca panas dan kondisi lahan kering.
Ia meminta masyarakat tidak sengaja membakar lahan maupun melakukan tindakan yang dapat menimbulkan titik api.
“Mohon kepada seluruh masyarakat, stop, stop untuk jahil ataupun sengaja. Jangan usil,” tegasnya.
Budi juga meminta masyarakat ikut berperan aktif dengan melaporkan apabila menemukan adanya pihak yang sengaja memicu kebakaran sehingga dapat ditindak sesuai ketentuan.
“Kalau ada yang melihat orang yang sengaja, tolong dibantu untuk penangkapan agar ada efek jera,” katanya.
Ia berharap sinergi antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, PT TIMAH dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat, tidak hanya ketika musim kemarau atau ancaman karhutla meningkat.
Menurutnya, kebakaran memiliki dampak luas terhadap masyarakat, mulai dari kesehatan, sosial hingga perekonomian.
“Selanjutnya kita jangan sampai di musim El Nino ini saja, tapi ke depannya juga kita tetap bersinergi karena ini adalah nyawa masyarakat kita. Di sini ada efek sosial dan ekonomi juga,” pungkasnya.
Sumber : www.timah.com





