Kualitas Jadi Pembeda, Ini Alasan Kompensasi Bijih Timah di Penambang

“Kalau saya masih kerja sama orang, kadang dapat banyak, kadang dapat sedikit. Biasanya bisa dapat sekitar Rp150.000 sehari tapi kadang enggak sampe, karena kerja dilaut ini tergantung rezeki, tergantung cuaca dan tidak menentu,” ucapnya.
Berbeda dengan Faisal Penambang di Kawasan Rebo, mengatakan hasil tambang timahnya dinilai dengan harga Rp160.000-170.000 ribu per kilogram. Harga timah ini disebutnya sudah stabil dalam beberapa pekan ini.
“Kalau timah saya dibeli Rp160.000 ini sudah beberapa Minggu stabil dibeli sama mitra PT Timah karena kita bermitra. Sekarang nambang jadi lebih tenang,” kata Faisal.
Menurutnya, dengan harga Rp160.000 ini dirinya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan bisa untuk sedikit menabung. Namun, Ia berharap nilai imbal jasa penambangan timah di tingkat Penambang bisa naik sampai Rp200.000.
“Kalau harga stabil begini cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bisa untuk beli mainan anak. Tapi semoga nanti bisa naik lagi sampai Rp200.000, kalau di sini memang lumayan bagus timahnya, tapi kadang untung-untung juga ada yang dapat timah kuning harganya lebih dibawah,” katanya
Dalam praktiknya, kadar timah dalam bijih yang dihasilkan penambang bisa sangat bervariasi. Faktor-faktor seperti metode penambangan, lokasi, jenis tanah, serta proses pencucian berpengaruh terhadap kadar logam yang dihasilkan. Bijih dengan kadar Sn tinggi akan memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding bijih dengan kadar rendah.
Selain itu, faktor kebersihan material dan kadar pengotor seperti pasir atau mineral lain juga memengaruhi nilai bijih timah. Semakin bersih dan murni hasilnya, semakin tinggi harga yang bisa diberikan oleh perusahaan mitra kepada para penambang rakyat.
Perbedaan harga timah di lapangan bukan merupakan bentuk ketidakseimbangan pasar, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan kualitas bijih yang dihasilkan. (*)
sumber : www.timah.com





