Tokoh Adat Damar Ajak Warga Belitung Timur Jaga Kondusivitas di Tengah Dinamika Tambang Timah

“Orang datang itu mau mencari uang untuk makan, mau beli kebutuhan untuk besok. Jangan sampai datang ke tempat penjualan, sudah antre, kemudian pulang karena tidak bisa menjual,” katanya.
Burhaini berharap tata kelola pertambangan dan pembelian bijih timah dapat dilakukan secara adil dan transparan. Menurutnya, kepastian harga dan mekanisme penjualan penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Ia juga meminta setiap kebijakan yang diterapkan disosialisasikan secara terbuka agar masyarakat memahami aturan yang berlaku dan tidak mendapatkan informasi yang simpang siur.
Di sisi lain, Burhaini mengingatkan para penambang agar tetap mematuhi ketentuan mengenai wilayah pertambangan.
“Kalau memang dalam KP (IUP), bekerja dalam KP (IUP). Kalau di luar KP (IUP), jangan dikerjakan. Itu saja, supaya aman dan kita sama-sama menghargai aturan,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memberikan penanda yang jelas pada wilayah yang dilarang untuk ditambang agar masyarakat mengetahui batas-batas aktivitas yang diperbolehkan.
Lebih jauh, Burhaini meminta masyarakat tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak tertentu ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
“Kita ini dalam air keruh, jangan sampai dimanfaatkan orang. Kalau kita tidak berpikir, kita yang hancur,” katanya.
Ia berharap komunikasi antara masyarakat, pemerintah, perusahaan, dan aparat terus diperkuat sehingga berbagai persoalan pertambangan dapat diselesaikan melalui dialog dan tidak berkembang menjadi konflik.
“Masyarakat sebenarnya tidak banyak menuntut. Kalau kebutuhan dan harapan mereka terpenuhi, tentu tidak akan macam-macam. Mereka hanya ingin mendapatkan hak dan penghidupan yang layak. Karena itu, jangan sampai masyarakat merasa dirugikan. Kalau memang ada hak mereka, berikan sesuai ketentuan dan harapan yang wajar,” ujarnya. (*)





