Mahasiswa Sosiologi UBB Kulik Praktik Ngereman, Cara Ibu-Ibu Desa Batu Belubang Bertahan Hidup

BANGKA TENGAH, GARUDAMERDEKA.ID – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertambangan timah, praktik ngereman masih bertahan sebagai salah satu strategi bertahan hidup masyarakat pesisir di Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah. Aktivitas yang dijalani puluhan perempuan ini kini menjadi fokus penelitian mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB).
Penelitian bertajuk Resiliensi dan Strategi Subsistensi Perempuan Ngereman di Desa Batu Belubang ini dilakukan oleh empat mahasiswa Semester VII Program Studi Sosiologi UBB dalam Program Kampus Berdampak. Tim peneliti diketuai Fitri Handayani, dengan anggota Nadia, Reja Rezky Alamsyah, dan Sania Nasywa Khoirunnisa.
Penelitian dimulai pada Senin, 3 Agustus 2026, dan akan berlangsung selama satu bulan dengan pendekatan partisipatif bersama masyarakat Desa Batu Belubang.
Aktivitas ngereman merupakan tradisi yang telah lama dijalani masyarakat pesisir. Setiap hari, para perempuan membawa makanan dan minuman kepada para penambang timah yang bekerja di laut. Sebagai balas jasa, mereka menerima timah yang diberikan secara sukarela oleh para penambang.
Tidak ada kesepakatan mengenai harga maupun jumlah timah yang diberikan. Besarnya timah yang diterima sepenuhnya bergantung pada hasil yang diperoleh penambang dan keikhlasan mereka. Karena itu, penghasilan para perempuan ngereman tidak pernah dapat dipastikan.
Meski demikian, sekitar 53 perempuan di Desa Batu Belubang tetap menjalani pekerjaan tersebut. Bagi mereka, ngereman bukan sekadar pekerjaan sambilan, melainkan salah satu cara untuk menjaga kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi di tengah terbatasnya pilihan mata pencaharian.
Ketua tim peneliti, Fitri Handayani, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan memahami alasan perempuan di Desa Batu Belubang tetap mempertahankan aktivitas ngereman meskipun dunia pertambangan terus mengalami perubahan.
Tim peneliti mengkaji bagaimana perempuan membangun resiliensi dan strategi subsistensi dalam menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan kesempatan kerja, serta risiko kemiskinan yang masih membayangi kehidupan masyarakat tambang.
Salah seorang perempuan ngereman, Ibu R (68), mengaku dirinya tidak pernah mempermasalahkan sedikit atau banyaknya timah yang diterima.
“Berapapun yang dikasih mereka kami ambil. Kadang-kadang banyak, kadang-kadang sedikit. Kalau sedikit, kami rasa itulah rezeki kami hari ini,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan sikap ikhlas sekaligus ketangguhan perempuan pesisir dalam menjalani kehidupan. Mereka tidak hanya menukar makanan dengan timah, tetapi juga mengorbankan tenaga, waktu, dan harapan demi memastikan keluarga tetap dapat bertahan.
Lebih dari sekadar mengangkat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, penelitian ini juga berupaya menggali makna sosial di balik praktik ngereman. Para peneliti ingin memahami bagaimana pekerjaan tersebut dimaknai oleh perempuan pelakunya, bagaimana hubungan sosial yang terbangun dengan para penambang, serta bagaimana aktivitas itu menjadi strategi bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.
Melalui penelitian ini, mahasiswa Sosiologi UBB berharap dapat mendokumentasikan realitas kehidupan perempuan ngereman secara utuh sekaligus memberikan kontribusi akademik dalam memahami dinamika sosial masyarakat pesisir dan kawasan pertambangan timah di Bangka Belitung. (GM)





