BangkaBangka BelitungBerandaBeritaPangkalpinang

Molen Dituding Gagal Total Atasi Banjir, Warga: Malah Sibuk Bangun “Telok Dinosaurus”

PANGKALPINANG – Calon Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen), kembali menuai sorotan tajam saat tampil dalam debat pasangan calon yang digelar KPU di Hotel Aston, Rabu (18/8/2025).

Warga menuding Molen gagal total menyelesaikan persoalan banjir di Pangkalpinang selama lima tahun menjabat wali kota periode 2018–2023.

Alih-alih fokus mengatasi banjir yang saban tahun melanda kota, Molen justru dinilai lebih sibuk membangun proyek estetika kota seperti pemasangan ribuan bollard atau bola beton yang populer disebut warga sebagai “telok dinosaurus”.

Data dari Bappelitbangda mencatat, pada tahun 2021 Pemkot Pangkalpinang telah mengalokasikan sekitar Rp30 miliar untuk program pengendalian banjir. Namun hingga kini, masalah banjir tetap berulang dan belum ada penyelesaian menyeluruh. Sementara itu, Pemkot juga menganggarkan pembangunan sekitar 1.000 bollard yang tersebar di berbagai titik kota.

Banyak warga menilai pembangunan bollard tersebut hanya sebatas kosmetik, tidak menyentuh akar persoalan lingkungan, drainase, maupun tata ruang kota yang buruk. Mereka menilai anggaran semestinya dialihkan untuk program konkret seperti perbaikan drainase, normalisasi sungai, hingga penegakan aturan pembangunan di lahan rawa.

Baca juga  Sekda Hefi Terima Dua Penghargaan BPOM untuk Bangka Selatan

Suryani (45), warga Bukit Sari, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan Molen.

“Kami ini sudah bertahun-tahun kebanjiran. Tidak ada yang salah mempercantik kota, memang bagus untuk foto-foto, tapi banjir nggak bisa diatasi dengan selfie. Tolong kepala daerah ke depan fokus dulu program yang bikin warga aman,” ujarnya dengan nada kesal.

Hal senada disampaikan Rendra Prasetyo, warga Kampak. Ia menilai pemerintah harus berani menentukan skala prioritas pembangunan.

“Estetika kota penting, tapi kalau tiap musim hujan masih banjir ya percuma. Anggaran besar sebaiknya diarahkan untuk drainase, normalisasi sungai, dan menjaga wilayah resapan air,” katanya.

Debat publik yang seharusnya menjadi ruang adu gagasan kini justru menjadi ajang kritik bagi Molen. Janji-janji baru yang ia tebarkan dianggap tidak relevan jika rekam jejak masa lalu menunjukkan persoalan krusial seperti banjir masih tak kunjung selesai. (Yg)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!