Bangka BaratBangka BelitungBerandaBerita

Ribuan Warga Saksikan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 di Pantai Pasir Kuning

BANGKA BARAT, GARUDA MERDEKA.ID — Ribuan warga memadati Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, untuk menyaksikan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026, Minggu (8/2/2026).

Tradisi adat tahunan masyarakat pesisir ini kembali digelar dengan khidmat dan meriah menjelang bulan suci Ramadan.

Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 dibuka oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Hidayat Arsani, yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Babel, Widya Kemala Sari.

Kegiatan yang sejak tahun 2024 telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Babel dan Kabupaten Bangka Barat, Bupati Bangka Barat, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Widya Kemala Sari, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan komitmennya dalam mendukung dan melestarikan kebudayaan daerah, termasuk menjadikan Festival Perang Ketupat Tempilang sebagai agenda budaya tahunan masyarakat Tempilang.

“Pemprov Babel tetap memberikan dukungan anggaran untuk pelaksanaan Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 sebesar Rp20 juta dari rencana awal Rp50 juta, meskipun dilakukan penyesuaian akibat efisiensi anggaran,” ujar Widya.

Selain dukungan anggaran, Widya juga mengungkapkan rencana pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2026. Selama ini, urusan pelestarian kebudayaan di Babel masih berada di bawah naungan BPK Provinsi Jambi.

Baca juga  Wabup Debby: Nanas Bikang Resmi Kantongi Sertifikat IG, Perkuat Identitas Komoditas Unggulan

“Dengan adanya BPK di Babel, diharapkan proses pelestarian, pencatatan, dan pengembangan kebudayaan daerah dapat berjalan lebih cepat, mudah, dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Widya berharap tradisi Perang Ketupat Tempilang dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tetap lestari serta menjadi daya tarik wisata budaya daerah.

Festival Perang Ketupat dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruah atau Syaban sebagai penanda menjelang datangnya bulan Ramadan. Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan tari tradisional dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan prosesi Perang Ketupat sebagai simbol tolak bala dan ungkapan rasa syukur masyarakat Tempilang.

Sebagai penutup, digelar ritual Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu ke laut yang melambangkan pelepasan segala marabahaya serta harapan keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat pesisir.

Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat dan wisatawan yang mengikuti seluruh rangkaian Festival Perang Ketupat Tempilang 2026 dari awal hingga akhir kegiatan. (YG)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!