Bangka BelitungBelitung TimurBeritaDaerahPT Timah

Harapan Kecil Penambang Rakyat di Belitung Timur, Harga Layak dan Penjualan Timah yang Lancar

BELITUNG TIMUR, GARUDAMERDEKA.ID — Bagi sebagian penambang rakyat di Belitung Timur, menambang timah bukan sekadar pekerjaan. Aktivitas tersebut menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Salah satunya Khairul Anam, warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Sejak 2019, ia menggantungkan penghasilan dari aktivitas penambangan timah rakyat.

Ia menceritakan, mendapatkan hasil timah kini bukan perkara mudah. Kondisi lokasi tambang yang semakin sulit membuat hasil produksi tidak selalu bisa diprediksi. Dalam kondisi tertentu, untuk mendapatkan tiga hingga empat kilogram timah dalam sehari saja bukan hal yang mudah.

“Penghasilan tidak tentu. Lokasi sekarang sudah amburadul, jadi agak susah kalau mencari tiga kilo, empat kilo itu sudah agak susah,” ujar Khairul beberapa waktu lalu.

Dengan memperhitungkan biaya operasional seperti bahan bakar dan kebutuhan harian lainnya, penghasilan bersih yang diperolehnya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari ketika mendapatkan hasil.

Nilai tersebut bagi Khairul sangat berarti untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Namun, ketika hasil tambang berkurang atau harga timah tidak stabil, kondisi ekonomi keluarga pun ikut terdampak.

Baca juga  PT Timah Ringankan Beban Bocah Penderita Tumor, Ravael 13 Tahun Kini Dapat Lanjutkan Pengobatan

Kondisi semakin berat ketika harga timah berada pada level yang dinilai belum mampu menutup kebutuhan operasional secara memadai. Khairul mengatakan, dirinya pernah menghadapi situasi ketika harga berada di kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.

“Kadang harga timah seperti kemarin tidak stabil. Kadang ada yang Rp130 ribu, Rp140 ribu, itu juga susah. Mau jual ke mana? Kalau sana-sini sudah tutup,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan bukan hanya mengenai harga. Ketersediaan tempat penjualan dan kelancaran proses transaksi juga menjadi hal penting bagi penambang rakyat. Saat harga mulai membaik, penambang justru harus menghadapi antrean panjang karena hasil timah yang hendak dijual menumpuk.

“Kalau harga kita sudah bagus, sudah puas sebagai masyarakat. Harga seperti ini ekonomi juga tetap terbantu, sangat terbantu. Karena operasional dengan penghasilan agak sesuai, tapi harus antre seperti ini,” katanya.

Ia menilai harga yang saat ini didapatkannya lebih sesuai dengan biaya operasional memberikan ruang bagi penambang untuk tetap bertahan.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!