BangkaBangka BelitungBerandaBeritaOpiniPangkalpinang

Mengajar di Tengah Kesenjangan: Guru SD dan Hegemoni Kurikulum Nasional

Kasus nyata dari guru SD kelas 3 di Bangka menunjukkan bagaimana hegemoni bekerja pada level mikro. Ia menghadapi siswa yang belum mampu membaca atau memahami makna bacaan, akibat dasar literasi yang lemah dari jenjang sebelumnya. Ketika ia mencoba memperlambat pembelajaran demi memperkuat dasar, tekanan kurikulum membuatnya khawatir tidak selesai menyampaikan materi. Ini adalah contoh nyata bagaimana hegemoni memaksa guru untuk mengikuti standar, meski standar itu bertentangan dengan kenyataan kelas. Walaupun program seperti Sekolah Penggerak memberikan fleksibilitas dan metode alternatif seperti project-based learning atau remedial, guru tetap merasakan tekanan karena nilai rapor dan penilaian kompetensi minimum turut menentukan reputasi sekolah.

Dari perspektif Gramsci, ini adalah bentuk hegemoni institusional yang mengatur cara berpikir guru, membuat mereka secara tidak langsung menerima bahwa mengejar kurikulum adalah satu-satunya cara yang benar, meskipun praktik tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Dilema ini menjadi serius karena dampaknya nyata jika guru terus mengejar kurikulum, banyak siswa hanya memahami permukaan materi. Sebaliknya, jika guru lebih fokus pada kebutuhan siswa, mereka berisiko dianggap tidak memenuhi standar institusional. Inilah bentuk tarik-menarik antara kebutuhan pedagogis dan hegemoni sistem pendidikan. Untuk mengatasi dominasi kurikulum dan memulihkan ruang pedagogis beberapa langkah dapat dilakukan yang Pertama, Pendampingan profesional berkelanjutan.

Baca juga  PT Timah Tbk Bina Bank Sampah Tanjung Elok, Ubah Sampah Jadi Manfaat dan Lingkungan pun Sehat 

Guru perlu diperkuat agar mampu mengembangkan identitas pedagogis yang kritis dan tidak hanya mengikuti standar hegemonik kurikulum. Kedua, Penilaian formatif dan diagnostic Guru diberi ruang otonom untuk menentukan kecepatan dan pendekatan belajar berdasarkan kondisi siswa bukan dominasi standar nasional. Ketiga, Fleksibilitas kurikulum lokal Pemerintah daerah perlu diberi kewenangan untuk menyesuaikan materi dengan konteks sosial dan kemampuan siswa setempat. Keempat, Kolaborasi dengan orang tua Mengingat latar belakang pendidikan keluarga, pemberdayaan orang tua dapat membantu memutus rantai hegemoni yang terjadi di rumah dan sekolah. Kelima, Pemanfaatan teknologi, Teknologi memberikan ruang alternatif belajar yang tidak sepenuhnya tunduk pada struktur formal, sehingga siswa dapat belajar sesuai ritme mereka.

Penulis : Rani Rosalia

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!