Bangka BelitungBeritaDaerahPangkalpinangPT Timah

PT Timah Pacu Hilirisasi Timah dan REE, Perkuat Industri Nasional dan Ekonomi Berkelanjutan

PANGKALPINANG – Hilirisasi menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Sebagai produsen timah terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas strategis ini.

PT Timah Tbk, sebagai representasi negara di sektor pertambangan timah, terus memperkuat hilirisasi melalui berbagai inovasi dan pengembangan produk bernilai tambah.

Hilirisasi yang dilakukan PT Timah sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, yang menekankan kelanjutan kebijakan hilirisasi dan pengurangan ekspor mineral mentah. Melalui anak usahanya, PT Timah Industri, perusahaan ini mengolah tin ingot menjadi produk-produk turunan seperti tin solder, tin solder powder, dan tin chemical yang kini telah menembus pasar global. Kapasitas produksi pabrik juga terus ditingkatkan untuk memenuhi permintaan industri.

“PT Timah terus berupaya memperkuat hilirisasi timah dan pengembangan REE agar strategi komoditas ini dapat memberikan manfaat optimal bagi bangsa,” kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Rendi Kurniawan, Senin (29/9/2025).

Menurut Rendi, timah memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan industri energi dan teknologi, termasuk untuk baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga perangkat penyimpanan energi. Dengan hilirisasi, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai produsen timah terbesar dunia, tetapi juga sebagai pemain kunci dalam rantai pasok energi bersih global.

“Hilirisasi harus berjalan beriringan dengan pertambangan ramah lingkungan. Program reklamasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional merupakan bagian penting dalam menciptakan ekosistem pertambangan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Baca juga  PT Timah Manfaatkan Momentum Ramadan untuk Perkuat Integritas dan Kebersamaan

Tidak hanya berfokus pada timah, PT Timah juga mengembangkan mineral ikutan yang memiliki potensi strategis, termasuk Rare Earth Element (REE) atau elemen tanah jarang. REE sangat dibutuhkan untuk industri teknologi tinggi seperti pembuatan chip semikonduktor, turbin angin, kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan.

PT Timah saat ini telah menghadirkan Pilot Plant RE(OH) di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, sebagai langkah awal pengolahan mineral tanah jarang.

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah. Menteri Pendidikan Tinggi, Teknologi, dan Sains (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, Ph.D, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat penelitian dan pengembangan REE di Indonesia.

“Kami akan melibatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk memperkuat riset pengolahan mineral tanah jarang. Rencana percontohan pembangunan akan dilakukan secepat mungkin. Saya mengapresiasi PT Timah yang sangat mendukung dan berkolaborasi dalam upaya ini,” ujar Brian.

Memperingati Hari Pertambangan dan Energi Nasional, PT Timah menegaskan peran strategisnya dalam mendukung agenda pemerintah untuk mewujudkan pertambangan yang berorientasi pada keberlanjutan.

“Momentum ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sumber daya mineral harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa, dan negara, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tutup Rendi.

Melalui komitmen hilirisasi, pengembangan REE, dan penerapan praktik pertambangan berkelanjutan, PT Timah optimis dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem industri global. (Shin)

sumber : www.timah.com

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!