Potensi Material Sisa Hasil Pengolahan, ITB dan PT Timah Tbk Rancang Masa Depan Inovasi Pertambangan

BANGKA BARAT — Dunia pertambangan tengah memasuki era baru yang menuntut efisiensi tinggi dan keberlanjutan jangka panjang.
Salah satu tantangan utama adalah bagaimana mengelola material sisa hasil pengolahan (tailing) agar tak lagi dianggap limbah, melainkan sebagai sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi.
PT Timah Tbk, sebagai satu-satunya perusahaan tambang timah nasional yang beroperasi secara terintegrasi di darat dan laut, membuka ruang kolaborasi strategis dengan kalangan akademisi untuk menjawab tantangan tersebut.
Pada Rabu (16/7/2025), perusahaan yang merupakan bagian dari Holding Industri Pertambangan MIND ID ini menerima kunjungan dosen dan mahasiswa Program Magister dan Doktor Institut Teknologi Bandung (ITB) di Divisi Pengolahan dan Peleburan, Bangka Barat.
Kunjungan ini berfokus pada pengamatan langsung terhadap proses pengolahan dan peleburan timah, sekaligus menjajaki peluang riset dan inovasi bersama terkait pemanfaatan sisa hasil pengolahan yang masih mengandung timah halus dan mineral ikutan seperti zirkon, monasit, dan logam tanah jarang.
Kepala Sub Bagian Pengolahan dan Pemurnian PT Timah Tbk, Kopdi Saragih, memaparkan bahwa saat ini PT Timah Tbk terus berupaya mengoptimalkan setiap tahapan proses pengolahan, termasuk menekan kehilangan material berharga yang masih terkandung dalam tailing.
“Kami menyadari bahwa dalam material sisa masih terdapat potensi besar. Kami ingin menjajaki teknologi dan pendekatan baru agar tailing bisa dimanfaatkan secara maksimal, dan di sinilah peran akademisi sangat dibutuhkan,” ungkap Kopdi.
Diskusi antara tim PT Timah Tbk dan delegasi ITB berlangsung dinamis. Salah satu yang menjadi sorotan adalah peluang riset dalam mengembangkan metode ekstraksi lanjutan terhadap material halus, yang secara konvensional sering luput dari proses pemurnian utama.
Perwakilan ITB, Dr. Muhammad Nur Heriawan, menyampaikan bahwa dunia akademik memiliki perhatian serius terhadap isu optimalisasi tailing, bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari aspek lingkungan dan ekonomi.
“Kami melihat tailing bukan sebagai limbah, tetapi sebagai bahan baku masa depan. Di dalamnya ada timah halus, zirkon, monasit, bahkan logam tanah jarang. Semua ini adalah komoditas strategis jika bisa diolah dengan teknologi yang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama antara ITB dan PT Timah Tbk harus diarahkan pada penciptaan platform riset terapan, di mana hasil studi bisa langsung dimanfaatkan oleh industri untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah.
“Tantangan global menuntut industri tambang untuk tidak hanya mengejar volume, tetapi juga nilai. Pemanfaatan tailing adalah salah satu solusi konkret yang bisa dikembangkan bersama,” tambah Dr. Heriawan.
Usai diskusi, rombongan ITB meninjau langsung area operasional peleburan PT Timah Tbk untuk melihat proses nyata yang dijalankan di lapangan. Hal ini sekaligus memberikan pemahaman kontekstual kepada mahasiswa mengenai kompleksitas teknis dan tantangan operasional yang dihadapi industri tambang.
Kunjungan ini menjadi bukti keseriusan kedua pihak dalam membangun masa depan industri pertambangan berbasis riset dan inovasi. PT Timah Tbk, sebagai pelaku utama sektor timah nasional, memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengelola sumber daya, tetapi juga sebagai penggerak transformasi teknologi.
Sementara ITB, melalui program pascasarjananya, hadir bukan sekadar sebagai pengamat, tetapi sebagai mitra aktif dalam penciptaan solusi masa depan. Kolaborasi ini diharapkan akan melahirkan riset-riset aplikatif, teknologi pengolahan lanjutan, serta peta jalan eksplorasi sumber daya alternatif dari material sisa.
Dengan sinergi ini, tailing bukan lagi akhir dari proses, melainkan awal dari peluang baru yang akan memperkuat daya saing Indonesia di bidang pertambangan, teknologi, dan ekonomi hijau. (Ayi)
sumber: www.timah.com





