BangkaBangka BelitungBeritaPT Timah

Ritual Adat Nujuh Jerami di Festival Mapor 2025, Pelestarian Adat Mapor yang Didukung PT Timah Tbk 

BANGKA — PT Timah Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya dan kearifan lokal di wilayah operasionalnya, Kamis (10/4/2025).

Tak hanya melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang bersifat fisik, perusahaan juga aktif mendorong eksistensi budaya masyarakat adat, seperti yang dilakukan dalam Perayaan Ritual Adat Nujuh Jerami pada Festival Mapor tahun 2025.

Festival tahunan yang digelar oleh Lembaga Adat Mapur ini berlangsung pada 9–11 April 2025 di Kampung Adat Gebong Memarong, Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka.

Puncak acara ditandai dengan pelaksanaan Ritual Nujuh Jerami pada Kamis, 10 April 2025, yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen padi, terutama beras merah. Ritual Nujuh Jerami merupakan tradisi penting bagi masyarakat adat Mapur.

Dalam prosesi ini, warga membawa jerami dari sawah ke lumbung secara bersama-sama, sambil melantunkan mantra adat dan doa sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta atas keberhasilan panen.

Ritual ini juga menjadi momen sakral untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas masyarakat adat yang tinggal di pedalaman hutan maupun kawasan pemukiman.

Rangkaian acara Festival Mapor tahun ini begitu beragam dan kental dengan nuansa adat.

Dimulai dengan Malam Niduk, dilanjutkan dengan Ritual Adat Nujuh Jerami yang dipimpin Ketua Adat Abok Usang Gedoy, pertunjukan Pencak Silat, Campak Darat Mapor, Rembuk Budaya, Halal Bihalal, Sedekah Kampong, dan ditutup dengan tradisi Sam Nyet Sip Sam.

Kampung Adat Gebong Memarong sendiri merupakan kawasan budaya yang diinisiasi oleh PT Timah bersama Lembaga Adat Mapur sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.

Baca juga  Polres Basel Syukuran HUT Satpam ke-45, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Terdapat tujuh rumah tradisional berbentuk panggung yang seluruhnya dibangun dengan material alami seperti kayu, atap nipah, dan dinding kulit kayu, mencerminkan gaya arsitektur khas masyarakat Mapor.

Ketua Harian Lembaga Adat Mapor, Asih Harmoko, mengungkapkan bahwa Festival Mapor memiliki makna penting dalam mengenalkan kembali adat istiadat leluhur kepada generasi muda dan masyarakat luas.

“Dengan adanya festival ini, kami berharap Kampung Adat Gebong Memarong bisa semakin dikenal dan menjadi pusat pelestarian adat Mapor,” ujar Asih.

Ia menambahkan bahwa Lembaga Adat Mapor kini telah menjalin sinergi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pemerintahan, kementerian, LSM, dan PT Timah untuk memperkuat perlindungan hukum dan pengembangan wisata adat Mapor.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Wydia Kemala Sari, yang turut hadir dalam acara, menyampaikan apresiasi atas peran aktif PT Timah.

“Kami tahu betul bahwa terbentuknya Kampung Adat Gebong Memarong tak lepas dari dukungan PT Timah. Kini, kampung adat ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang memberikan efek ekonomi positif bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Festival Mapor tidak hanya menjadi sarana pelestarian adat, tetapi juga mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.

Dengan kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan dunia usaha seperti PT Timah, harapan besar tumbuh agar warisan budaya Mapor tetap lestari dan menginspirasi generasi mendatang. (Tri)

 

www.timah.com

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!