Gotong Royong Tanpa APBD, Pemkot dan Alumni Hidupkan Kembali Bujang Dayang Pangkalpinang

PANGKALPINANG, GARUDA MERDEKA.id — Pemerintah Kota Pangkalpinang memastikan bahwa gelaran Pemilihan Bujang Dayang 2025 akan dilaksanakan tanpa menggunakan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Kegiatan yang sempat vakum selama dua tahun ini akan digelar secara kolaboratif, melibatkan alumni Bujang Dayang, pemerintah kota, dan berbagai pihak pendukung.
Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, menegaskan bahwa semangat utama kegiatan ini adalah menghidupkan kembali tradisi kebanggaan generasi muda Kota Beribu Senyuman tanpa membebani keuangan daerah.
“Tidak ada dana APBD. Saat ini kita fokus program 100 hari kerja. Tapi semangat kita satu: mengembalikan marwah Bujang Dayang. Dana kita dapatkan bersama, kita cari bersama,” ujar Susanti dalam konferensi pers di Rumah Dinas Wali Kota, Senin (3/11/2025).
Ia menjelaskan, inisiatif untuk menghidupkan kembali ajang tersebut muncul dari para alumni Bujang Dayang yang merindukan momen kebersamaan dan ajang prestisius tersebut. Pertemuan perdana antara pihak TP PKK dan alumni bahkan dilakukan sebelum pelantikan Wali Kota Prof. Saparudin Masyarif (Prof Udin).
“Saat itu para alumni menyampaikan kerinduan mereka terhadap ajang ini. Pak Wali langsung merespons antusias dan bilang, ‘Kenapa harus tunggu Oktober? Kalau bisa tahun ini, jalankan.’ Soal dana, beliau bilang kita cari sama-sama,” tutur Susanti.
Lebih dari sekadar kontes kecantikan dan ketampanan, Pemilihan Bujang Dayang tahun ini dikonsep ulang sebagai program pendidikan karakter dan kepemimpinan bagi anak muda Pangkalpinang berusia 16–25 tahun.
Selama 11 hari pelatihan intensif, para peserta akan dibekali materi tentang kepribadian, etika, budaya lokal, serta keterampilan kepemimpinan.
“Ini bukan ajang penampilan semata, tapi ruang pembentukan karakter. Kita ingin anak-anak ini tumbuh tanpa korupsi, tanpa kolusi. Mereka adalah intelektual muda yang kelak siap menjadi eksekutif muda, tenaga kerja unggul, dan pemimpin masa depan,” ujar Susanti.
Ia menambahkan, proses seleksi dan penobatan hanyalah simbol, sedangkan nilai utama ada pada proses pembelajaran dan penguatan karakter selama kegiatan berlangsung.
Dengan mengadopsi konsep ajang seperti Abang–None Jakarta, kegiatan ini diharapkan mampu mengembalikan ikon budaya Bujang Dayang sebagai simbol identitas sekaligus duta pariwisata dan budaya Kota Pangkalpinang.
“Mereka bukan hanya wajah kota, tapi duta nilai, duta budaya, dan teladan bagi generasi muda lainnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pangkalpinang, Suranto, menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung penuh publikasi kegiatan agar gaungnya menjangkau masyarakat luas.
“Kegiatan ini sempat terhenti dua tahun. Ini bagian dari upaya memperkenalkan budaya Pangkalpinang. Harapannya, dengan adanya event ini, nama Pangkalpinang semakin terangkat dan dikenal luas di seluruh Indonesia,” kata Suranto.
Ia menambahkan, Diskominfo akan berkolaborasi dengan panitia dan alumni dalam hal publikasi dan promosi, agar semangat kebudayaan ini terus hidup di tengah masyarakat.
“Prinsipnya kami sangat mendukung. Nanti teknis publikasi bisa kita koordinasikan lebih lanjut,” ujarnya.
Selain menjelaskan visi dan semangat gotong royong dalam penyelenggaraan acara, panitia juga mengumumkan sejumlah persyaratan peserta Pemilihan Bujang Dayang Pangkalpinang 2025.
Peserta harus berusia 16 hingga 25 tahun, belum menikah, sehat jasmani dan rohani, serta bebas dari penyalahgunaan narkoba. Untuk tinggi badan, batas minimal ditetapkan 165 cm bagi Bujang dan 160 cm bagi Dayang.
Selain itu, peserta diharapkan memiliki pengetahuan umum, wawasan tentang pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, dan isu-isu terkini, serta kemampuan komunikasi yang baik, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.
Dengan konsep gotong royong tanpa APBD, Pemerintah Kota Pangkalpinang berharap ajang ini menjadi wajah baru kebangkitan budaya dan karakter pemuda, sekaligus menjadi momentum kolaborasi masyarakat dan pemerintah dalam membangun identitas kota yang berperadaban. (Yg)





