Lahan Tak Terpakai Disulap Jadi Kebun Hortikultura: PT Timah Tbk dan Petani Bangka Tawarkan Solusi Lingkungan dan Pangan

BANGKA — Di tengah tantangan perubahan iklim, ancaman krisis pangan, dan makin sempitnya lahan pertanian, sebuah terobosan lahir di Kabupaten Bangka.
Sebuah lahan helipad milik PT Timah Tbk yang semula tak terpakai kini disulap menjadi kebun hortikultura produktif berkat kolaborasi cerdas antara Kelompok Tani Desa Nangnung dan perusahaan tambang milik negara tersebut.
Langkah ini bukan hanya jawaban atas kebutuhan pangan lokal, tapi juga solusi nyata atas persoalan lingkungan dan pengelolaan aset yang selama ini belum dimaksimalkan.
Transformasi kawasan Helipad Balai Karya di Air Kantung, Kecamatan Sungailiat, dimulai saat PT Timah Tbk memberikan dukungan berupa bibit sayuran dan buah-buahan kepada Kelompok Tani Desa Nangnung.
Bantuan ini diberikan dalam kegiatan bertema HARI CERDAS (Helipad, Asri, Rapi dan Indah – Cerminan Edukasi Ramah Lingkungan) yang diinisiasi oleh Division Engineering & Operation Excellence PT Timah Tbk.
Ketua Kelompok Tani Desa Nangnung, Edo Mardiano, menjelaskan bahwa sebelumnya mereka telah mencoba menanam singkong di area tersebut.
Namun, dengan adanya bantuan bibit dan dukungan penuh dari PT Timah Tbk, mereka kini mengembangkan budidaya terong, cabai, sawi, kacang panjang, serta tanaman hortikultura lainnya di atas lahan seluas 1,6 hektar.
“Ini bukan sekadar berkebun. Kami ingin membuktikan bahwa lahan yang dianggap tidak produktif bisa disulap jadi sumber pangan dan penghidupan,” ungkap Edo.
Menurut Edo, inisiatif ini juga lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan sekitar Helipad yang sebelumnya digunakan warga sebagai tempat pembuangan sampah liar. Dengan hadirnya pertanian, kawasan tersebut menjadi lebih bersih dan tertata.
“Sekarang orang enggan buang sampah sembarangan karena lahannya sudah aktif digunakan dan lebih terawat. Ini bentuk nyata dari edukasi lewat aksi,” tambahnya.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pendekatan lingkungan bisa dilakukan dengan cara sederhana namun berdampak luas, yakni memanfaatkan aset tak terpakai menjadi ruang hijau yang bermanfaat.
Selain menghasilkan kebutuhan pangan bagi masyarakat sekitar, Edo dan kelompoknya juga melihat peluang ekonomi dari kegiatan ini. Hasil panen akan dipasarkan secara lokal dan bisa menambah pendapatan anggota kelompok.
“Dampaknya langsung terasa bagi anggota. Tapi ke depan kami ingin lebih banyak warga terlibat, tidak hanya sebagai petani, tapi juga pelaku usaha lokal yang memanfaatkan hasil panen,” ujarnya.
Kelompok Tani Desa Nangnung bahkan merencanakan untuk mengintegrasikan kegiatan pertanian ini dengan peternakan, menciptakan sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan.
Yang membuat inisiatif ini lebih menarik adalah visinya yang jauh ke depan. Edo menyampaikan bahwa kelompoknya tak hanya ingin jadi penghasil pangan, tapi juga menjadi pusat edukasi pertanian dan lokasi wisata alternatif berbasis alam.
“Bayangkan orang datang ke sini, belajar cara bertani, memetik sayur sendiri, atau sekadar menikmati suasana alam. Itu akan jadi pengalaman baru yang positif untuk masyarakat,” tuturnya penuh semangat.
Edo menutup keterangannya dengan apresiasi kepada PT Timah Tbk yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan kepada kelompok tani mereka. Ia berharap kolaborasi seperti ini bisa menjadi model yang direplikasi di tempat lain.
“Kami harap PT Timah Tbk terus mendampingi kami. Kami siap belajar dan berkembang agar manfaat dari kegiatan ini bisa lebih luas lagi dirasakan masyarakat,” ucapnya.
Apa yang dilakukan oleh PT Timah Tbk dan Kelompok Tani Desa Nangnung adalah contoh nyata bahwa pemanfaatan aset tidak produktif bisa menjadi solusi multipihak: menyelesaikan masalah lingkungan, menambah ketahanan pangan, membuka peluang ekonomi, hingga menciptakan ruang edukasi dan wisata berbasis alam.
Sebuah pendekatan sederhana, namun berdampak luas. Dan dari sebuah helipad yang dulu sunyi, kini tumbuh harapan yang hijau dan berbuah untuk masa depan. (Tri)
sumber: www.timah.com





