Hipertensi dan ISPA Dominasi Penyakit Terbanyak di Bangka Selatan Sepanjang 2024

BANGKA SELATAN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Bangka Selatan mencatat dua penyakit yang paling banyak diderita masyarakat sepanjang tahun 2024, yakni tekanan darah tinggi (hipertensi) dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kepala Dinas Kesehatan dr Agus Pranawa mengungkapkan, jumlah penderita hipertensi mencapai 9.327 orang, sementara kasus ISPA tercatat sebanyak 8.108 kasus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyakit tidak menular masih mendominasi pola penyakit di wilayah tersebut, disusul oleh penyakit menular.
“Kami melihat bahwa pola penyakit masih didominasi oleh penyakit tidak menular seperti hipertensi, diikuti penyakit menular seperti ISPA. Ini menjadi perhatian bersama,” ujar dr Agus, Senin (21/4/2025).
Selain dua penyakit utama tersebut, Dinkes juga mencatat beberapa penyakit lain dengan jumlah kasus yang tinggi. Dispepsia atau gangguan pada lambung tercatat sebanyak 5.314 kasus, disusul penyakit pada rongga mulut sebanyak 4.714 kasus.
Menurut Agus, tingginya kasus dispepsia kemungkinan berkaitan erat dengan pola makan yang belum seimbang dan tingkat stres masyarakat.
“Penyakit pada rongga mulut biasanya berkaitan dengan kebiasaan menyikat gigi yang belum optimal serta rendahnya kesadaran menjaga kebersihan gigi dan mulut,” jelasnya.
Jumlah penderita diabetes melitus pun tercatat cukup tinggi, yakni sebanyak 2.593 orang. Selain itu, penyakit yang berkaitan dengan sistem otot mencatat 2.291 kasus, diikuti cephalgia (sakit kepala kronis) sebanyak 1.269 kasus, serta diare sebanyak 1.254 kasus.
“Kasus diabetes terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kami mendorong masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, serta menjalani pola hidup yang lebih sehat dan aktif,” ujarnya.
Dinkes Bangka Selatan juga mencatat 996 kasus penyakit mata serta 911 kasus penyakit kulit akibat infeksi. Menurut Agus, data ini menjadi dasar penting dalam menentukan arah kebijakan layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Untuk menekan angka kesakitan, pihaknya akan terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui kampanye kesehatan, penyuluhan masyarakat, dan peningkatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
“Kami berharap kolaborasi lintas sektor, baik dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat, dapat terus ditingkatkan demi menurunkan angka kejadian penyakit di Bangka Selatan,” tutupnya. (Eboy)





